Kendari – Universitas Muhammadiyah Kendari kembali membuktikan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui peluncuran program Kuliah Kerja Nyata (KKN) terintegrasi yang melibatkan Unit Mapala Pecinta Alam secara langsung. Program inovatif ini menggabungkan tiga pilar utama: pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan penelitian berbasis komunitas dengan durasi selama dua bulan, dimulai dari pertengahan April hingga Juni 2026.
Inisiatif yang diberi nama “KKN Berwawasan Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Sulawesi Tenggara” ini melibatkan lebih dari 150 mahasiswa dari berbagai fakultas yang akan ditempatkan di 12 desa pesisir dan pegunungan di Kabupaten Kendari dan sekitarnya. Unit Mapala Pecinta Alam, sebagai organisasi yang telah berdiri sejak 2008 dengan fokus pada konservasi alam dan edukasi lingkungan, menjadi koordinator utama dalam pelaksanaan program ini.
“Kami percaya bahwa mahasiswa bukan hanya dipersiapkan untuk menjadi profesional, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial yang peduli terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujar Dr. H. Basri Rahman, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam acara peluncuran program di Aula Utama Kampus pada Jumat (10/4/2026). Beliau menambahkan bahwa program ini sejalan dengan visi misi universitas dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik dan berkelanjutan.
Latar Belakang dan Urgensi Program
Peluncuran program KKN terintegrasi ini didasarkan pada berbagai pertimbangan strategis. Pertama, Sulawesi Tenggara khususnya wilayah Kendari menghadapi tantangan serius terkait degradasi lingkungan pesisir, termasuk kerusakan hutan mangrove, pencemaran laut, dan pengelolaan sampah yang tidak optimal. Kedua, masyarakat lokal, terutama di desa-desa terpencil, masih memerlukan akses pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi yang lebih baik.
Data yang dihimpun dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, tutupan hutan mangrove berkurang sekitar 8 persen, sementara pencemaran plastik laut meningkat 45 persen. Situasi ini mendorong Universitas Muhammadiyah Kendari, khususnya melalui Unit Mapala Pecinta Alam, untuk mengambil peran aktif dalam mengatasi krisis lingkungan yang dihadapi.
“Kami melihat peluang besar untuk mengintegrasikan misi akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. KKN bukan hanya formalitas administratif, tetapi sebuah komitmen nyata untuk memberikan dampak positif yang terukur dan berkelanjutan,” jelas Imam Santoso, S.Pd., M.Kes., Ketua Unit Mapala Pecinta Alam Unismuh Kendari, dalam wawancara eksklusif dengan kami.
Struktur dan Target Program
Program KKN terintegrasi ini dirancang dalam tiga fase utama. Fase pertama adalah periode orientasi dan riset sosial (2 minggu), di mana mahasiswa akan mempelajari kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan di desa penempatan mereka. Fase kedua adalah implementasi program kegiatan (6 minggu), mencakup kegiatan pelestarian lingkungan, pelatihan keterampilan, edukasi kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Fase ketiga adalah evaluasi dan dokumentasi hasil (2 minggu), termasuk penyusunan laporan dan presentasi hasil kepada masyarakat dan civitas akademika.
Target program mencakup beberapa aspek spesifik. Dari sisi lingkungan, direncanakan penanaman 5.000 pohon mangrove di kawasan pesisir, pembangunan 10 unit tempat penampungan sampah terpadu, dan pelatihan pengolahan limbah organik untuk 200 keluarga. Dari sisi pemberdayaan masyarakat, program akan memberikan pelatihan keterampilan kepada 300 pengrajin lokal, pembentukan 15 kelompok usaha bersama (KUB) baru, dan edukasi kesehatan reproduksi untuk 500 ibu rumah tangga.
“Target kami sangat ambisius, tetapi realistis mengingat jumlah mahasiswa yang terlibat dan dukungan penuh dari universitas,” kata Siti Nurhaliza, S.T., M.T., Dosen Pendamping KKN dan Anggota Unit Mapala Pecinta Alam. “Setiap kelompok KKN terdiri dari 8-15 mahasiswa dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda-beda, sehingga kami dapat memberikan solusi yang holistik dan multidisipliner.”
Melibatkan Unit Mapala Pecinta Alam secara Aktif
Unit Mapala Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Kendari memainkan peran sentral dalam program ini. Organisasi yang aktif melakukan pendakian, penelitian biodiversity, dan edukasi lingkungan ini telah mempersiapkan protokol teknis, panduan pelaksanaan, dan modul pelatihan untuk mahasiswa peserta KKN.
Imam Santoso menjelaskan bahwa Unit Mapala telah menyelenggarakan pelatihan khusus untuk 50 mahasiswa senior yang akan berperan sebagai koordinator lapangan di masing-masing desa. “Training selama satu bulan ini mencakup technical skill tentang konservasi, soft skill komunikasi dengan masyarakat, dan pemahaman mendalam tentang kondisi ekosistem lokal Kendari,” ucapnya.
Selain itu, Unit Mapala juga telah menjalin kemitraan dengan beberapa organisasi lingkungan lokal seperti Komunitas Pecinta Laut Kendari (KPLK) dan Yayasan Konservasi Mangrove Sulawesi Tenggara (YKMST). Kemitraan ini memastikan bahwa program KKN memiliki fondasi ilmiah yang kuat dan relevan dengan kebutuhan lapangan.
“Unit Mapala bukan hanya organisasi mahasiswa biasa yang berfokus pada outdoor activities. Kami juga memiliki divisi research dan conservation yang serius dalam melakukan penelitian dan edukasi lingkungan,” jelas Aditya Wijaya, S.H., M.H., Ketua Divisi Research Unit Mapala, dengan penuh bangga.
Dukungan Institusional dan Sumber Daya
Rektor Unismuh Kendari menekankan bahwa universitas telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 750 juta untuk mendukung pelaksanaan program KKN tahun ini. Dana ini digunakan untuk operasional lapangan, provision mahasiswa, sosialisasi masyarakat, dan monitoring-evaluasi program.
“Investasi ini bukan pengeluaran, tetapi investasi dalam membangun masa depan yang lebih baik untuk Kendari dan untuk pengembangan karakter mahasiswa kami,” kata Dr. Basri Rahman dengan tegas.
Selain dukungan finansial, universitas juga memberikan dukungan logistik, termasuk penyediaan transportasi, akomodasi, dan peralatan yang diperlukan. Dua unit health center portable juga disediakan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan mahasiswa selama di lapangan.
Kemitraan dengan pemerintah daerah juga telah ditetapkan. Bupati Kendari, H. Hasnah Opu, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, menyatakan: “Program KKN Unismuh Kendari ini sangat sejalan dengan program pembangunan daerah kami. Kami siap memberikan fasilitasi penuh, mulai dari koordinasi dengan desa-desa, pengamanan lapangan, hingga kolaborasi dalam pelaksanaan kegiatan.”
Metode dan Pendekatan Inovatif
Program ini menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), yang mengutamakan pengenalan dan pengoptimalan aset yang sudah dimiliki masyarakat, daripada hanya fokus pada kekurangan. Pendekatan ini telah terbukti lebih efektif dalam memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.
“Kami tidak datang ke desa untuk memberikan solusi dari atas. Kami datang untuk mendengarkan, belajar, dan bersama-sama dengan masyarakat menemukan solusi yang sesuai dengan konteks lokal mereka,” papar Dr. H. Basri Rahman ketika menjelaskan filosofi program.
Mahasiswa peserta KKN juga akan menggunakan teknologi untuk mendokumentasikan proses dan hasil mereka. Aplikasi mobile khusus telah dikembangkan untuk melacak progress, sharing best practices antar kelompok, dan memfasilitasi komunikasi real-time dengan tim supervisory.
“Teknologi ini membantu kami untuk tetap tersentralisasi dalam monitoring meskipun program berlangsung di lokasi yang tersebar di berbagai desa,” jelas Fitra Rahmadi, S.Kom., M.Kom., Dosen Teknologi Informasi yang merancang sistem ini.
Rencana Dampak dan Keberlanjutan
Program ini dirancang dengan fokus jangka panjang. Setiap kelompok KKN diharapkan meninggalkan “legacy project” yang dapat dilanjutkan oleh masyarakat lokal setelah mahasiswa pulang. Ini bisa berupa kelompok usaha yang sudah berjalan, sistem pengelolaan lingkungan yang tertata, atau platform edukasi digital yang dapat diakses masyarakat.
Unit Mapala Pecinta Alam berkomitmen untuk melakukan monitoring pasca-KKN selama minimal satu tahun. “Kami akan rutin kembali ke desa-desa untuk melihat apakah program berkelanjutan, dan memberikan bantuan teknis jika diperlukan,” kata Imam Santoso.
Dari sisi dampak akademik, mahasiswa peserta KKN akan menghasilkan publikasi ilmiah, video dokumenter, dan portfolio yang dapat digunakan untuk keperluan pengembangan karir mereka. Beberapa hasil riset terbaik direncanakan akan dipresentasikan dalam seminar nasional dan dimungkinkan dipublikasikan di jurnal akademik.
Tantangan dan Strategi Mitigasi
Meskipun program dirancang dengan matang, berbagai tantangan tetap diidentifikasi. Dr. Basri Rahman mengakui bahwa “tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur di beberapa desa, potensi konflik sosial yang harus sensitif kami hadapi, dan memastikan konsistensi kualitas program di 12 lokasi berbeda.”
Untuk mengatasi ini, universitas telah menyiapkan protokol manajemen risiko, regular supervision oleh dosen pendamping, dan sistem komunikasi darurat yang responsif. Juga, pembekalan kultural sensitivity training diberikan kepada semua mahasiswa peserta.
Kesimpulan
Peluncuran program KKN terintegrasi dengan melibatkan Unit Mapala Pecinta Alam menandai komitmen Universitas Muhammadiyah Kendari dalam menerjemahkan visi akademik menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan melibatkan lebih dari 150 mahasiswa, alokasi anggaran yang signifikan, dan dukungan penuh dari berbagai stakeholder, program ini memiliki potensi besar untuk menciptakan dampak positif yang terukur dan berkelanjutan.
Unit Mapala Pecinta Alam, sebagai jantung pelaksanaan program ini, menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa dapat menjadi instrumen perubahan sosial yang nyata dan bermakna. Semoga program yang dimulai pada pertengahan April 2026 ini dapat menjadi model yang inspiratif bagi institusi pendidikan lainnya dalam melaksanakan pengabdian masyarakat yang autentik, inovatif, dan berdampak.
—
Ket. Artikel ini ditulis berdasarkan informasi dari peluncuran program pada 10 April 2026 di Universitas Muhammadiyah Kendari.